Breaking News

Mojtaba Khamenei Terpilih Sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran

 

Jakarta - Iran resmi memiliki pemimpin tertinggi baru setelah para ulama yang tergabung dalam Majelis Ahli menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran. Ia menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang memicu eskalasi konflik besar di kawasan Timur Tengah.

Pengumuman penunjukan tersebut disampaikan pada Minggu (8/3/2026) waktu setempat. Keputusan ini menandai pergantian kepemimpinan penting di Iran di tengah situasi geopolitik yang semakin memanas dan disebut sebagai salah satu krisis terbesar sejak berdirinya Republik Islam Iran hampir lima dekade lalu.

Mojtaba Khamenei yang kini berusia 56 tahun selama ini dikenal sebagai figur berpengaruh di lingkaran kekuasaan Iran. Meski tidak pernah mencalonkan diri dalam jabatan publik ataupun mengikuti pemilihan umum, ia disebut memiliki pengaruh besar dalam berbagai keputusan strategis di sekitar kepemimpinan ayahnya.

Awak media menyebutkan bahwa Mojtaba juga memiliki hubungan yang kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang selama ini menjadi salah satu pilar utama kekuatan militer dan politik negara tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, namanya semakin sering disebut sebagai kandidat kuat penerus Ali Khamenei.

Sejumlah pengamat menilai terpilihnya Mojtaba menjadi sinyal bahwa kelompok garis keras masih memiliki pengaruh besar dalam struktur kekuasaan Iran. Kondisi ini dinilai dapat memperkecil peluang tercapainya negosiasi damai dalam waktu dekat, terlebih ketika konflik yang melibatkan Iran telah memasuki pekan kedua.

Awak media juga menggambarkan Mojtaba Khamenei sebagai sosok yang selama ini berperan sebagai penjaga akses bagi ayahnya dalam pengambilan keputusan penting negara. Ia diketahui memiliki pandangan yang sejalan dengan sikap Ali Khamenei terhadap Amerika Serikat dan Israel, sehingga banyak pihak memperkirakan kepemimpinannya akan tetap bersikap tegas terhadap kedua negara tersebut.

Meski demikian, sejumlah analis menilai perubahan arah kebijakan masih mungkin terjadi dalam jangka panjang, terutama jika konflik yang sedang berlangsung berakhir dan kondisi domestik Iran kembali stabil.

Seorang pengamat kebijakan publik yang diwawancarai awak media menyebutkan bahwa penunjukan Mojtaba menunjukkan adanya kesinambungan dalam sistem kekuasaan Iran. Namun, menurutnya masih terlalu dini untuk memastikan apakah pemimpin baru tersebut akan mendorong upaya negosiasi untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung.

Penunjukan tersebut juga disebut sebagai bentuk sikap politik Iran terhadap tekanan dari luar negeri. Awak media mengutip pernyataan pengamat yang menilai bahwa keputusan ini mengirim pesan bahwa Iran tidak akan tunduk pada upaya pihak luar untuk mengubah sistem kepemimpinan negara tersebut.

Sementara itu, seorang anggota Majelis Ahli Iran menjelaskan kepada awak media bahwa kandidat pemimpin tertinggi dipilih dengan mempertimbangkan pesan dan nasihat Ali Khamenei sebelum wafat. Ia menyebut pemimpin Iran seharusnya tidak diukur dari penerimaan musuh negara, melainkan dari keteguhan dalam mempertahankan kepentingan nasional.

Pemimpin tertinggi Iran sendiri dipilih oleh Majelis Ahli yang terdiri dari 88 ulama. Sebelum pengumuman resmi dilakukan, lembaga tersebut sebelumnya menyatakan telah mencapai kesepakatan mayoritas terkait sosok pengganti Ali Khamenei.

Ali Khamenei memimpin Iran selama sekitar 37 tahun setelah menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh yang memimpin Revolusi Iran pada 1979. Ia dilaporkan meninggal dunia pada 28 Februari lalu dalam serangan yang terjadi di Teheran, yang kemudian menjadi pemicu meningkatnya konflik militer di kawasan Timur Tengah.

Situasi semakin memanas setelah militer Israel sebelumnya mengancam akan menargetkan siapapun yang menggantikan posisi Khamenei. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga sempat menyampaikan pernyataan bahwa kepemimpinan baru Iran tidak akan bertahan tanpa persetujuan dari Washington.

Pernyataan tersebut langsung mendapat respons keras dari para pejabat Iran. Mereka menegaskan bahwa masa depan negara sepenuhnya ditentukan oleh rakyat Iran tanpa campur tangan negara lain.

Ketua parlemen Iran bahkan menyindir pernyataan tersebut dengan menegaskan bahwa nasib Iran hanya akan ditentukan oleh bangsa Iran sendiri, bukan oleh pihak luar.

Pergantian kepemimpinan ini diperkirakan akan membawa dampak besar terhadap arah politik Iran ke depan, baik dalam kebijakan domestik maupun hubungan dengan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah.

(Red.EI)

0 Komentar

© Copyright 2022 - TOP BERITA
https://www.topberita.online/p/box-redaksi.html