KEDIRI - Dugaan keracunan makanan yang dialami ratusan siswa SMP Negeri 1 Kras, Kabupaten Kediri, usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat tanggapan dari pihak penyedia makanan. Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwodadi Kras, Yadin Syahril, menyatakan bahwa pihaknya tidak menerima laporan pada hari kejadian, Kamis (23/7), melainkan baru memperoleh informasi pada keesokan harinya sekitar pukul 10.00.
Setelah menerima laporan tersebut, tim SPPG langsung mendatangi sekolah untuk melakukan pengecekan. Di lokasi, mereka menemukan beberapa siswa yang mengeluhkan gejala seperti mual, muntah, pusing, dan diare. Namun, menurut Yadin, jumlah siswa yang memerlukan penanganan medis di puskesmas hanya dua hingga tiga orang.
Yadin menjelaskan, apabila dugaan keracunan disampaikan sejak awal, pihaknya dapat segera melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah disiapkan. Langkah tersebut penting untuk memastikan apakah makanan yang disajikan benar-benar menjadi penyebab munculnya keluhan para siswa.
Ia menyayangkan informasi mengenai dugaan keracunan baru muncul beberapa hari setelah makanan dibagikan. Akibatnya, sampel makanan yang seharusnya dapat diuji sudah tidak dapat digunakan karena melewati batas waktu pemeriksaan. Kondisi itu membuat proses penelusuran penyebab kejadian menjadi lebih sulit.
Selain itu, Yadin juga menyoroti fakta bahwa pihak sekolah tetap menerima seluruh paket MBG sesuai jumlah penerima manfaat setelah kejadian tersebut. Menurutnya, apabila memang terjadi dugaan keracunan, seharusnya ada penolakan atau setidaknya pengurangan jumlah paket makanan bagi siswa yang tidak masuk sekolah. Namun, distribusi makanan tetap berlangsung seperti biasa tanpa ada pengurangan.
Sebelumnya, sebanyak 211 siswa SMP Negeri 1 Kras dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG. Gejala yang dirasakan bervariasi, mulai dari pusing, mual, muntah, sakit perut, hingga diare. Hingga kini, penyebab pasti munculnya keluhan tersebut masih belum dapat dipastikan karena tidak adanya sampel makanan yang dapat diperiksa di laboratorium. (red/hep)

0 Komentar