KEDIRI – Suasana pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) Bogokidul, Kecamatan Plemahan, mendadak penuh ketegangan saat Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana meninjau langsung kegiatan pelatihan keterampilan, Jumat (17/7). Salah seorang peserta pelatihan barista tampak gugup ketika diminta meracik secangkir kopi khusus untuk orang nomor satu di Kabupaten Kediri tersebut.
Di sela kunjungannya, Bupati yang akrab disapa Mas Dhito itu menyambangi kelas pelatihan barista. Ia kemudian meminta peserta membuatkan segelas iced Americano sesuai seleranya.
"Esnya setengah saja," ujar Dhito sambil tersenyum.
Permintaan tersebut membuat Larasati, peserta pelatihan yang akrab disapa Raras, tak mampu menyembunyikan rasa gugup. Pasalnya, ia baru mengikuti pelatihan selama empat hari sebelum dipercaya meracik kopi langsung di hadapan bupati.
"Baru belajar empat hari, terus diminta membuat kopi langsung untuk Pak Bupati. Rasanya deg-degan, tapi juga senang dan bangga," ungkap Raras.
Meski sempat tegang saat namanya ditunjuk oleh instruktur, Raras berusaha tetap tenang dan menyelesaikan racikan kopinya secara profesional.
"Saya senang sekali bisa membuatkan kopi untuk Pak Bupati," katanya.
Kunjungan Dhito ke BLK Bogokidul tidak hanya untuk melihat pelatihan barista. Ia juga meninjau berbagai program pelatihan kerja yang saat ini memasuki hari kelima pelaksanaan.
Beberapa bidang keterampilan yang diberikan meliputi pelatihan bahasa Jepang untuk program International Manpower (IM) Jepang, barber, barista, teknik pengelasan, makeup artist (MUA), teknik sepeda motor, digital marketing, hingga administrasi perkantoran.
"Ini hari kelima pelaksanaan pelatihan kerja. Salah satunya ada pelatihan bahasa Jepang untuk program International Manpower Jepang," jelas Dhito.
Durasi pelatihan disesuaikan dengan jenis kompetensi yang dipelajari, mulai dari 15 hari, 20 hari, hingga 30 hari.
Meski belum dapat menilai hasil pelatihan karena masih berjalan, Dhito mengaku optimistis melihat tingginya antusiasme peserta. Bahkan, khusus kelas persiapan kerja ke Jepang, jumlah pendaftar mencapai lebih dari 200 orang.
Menurutnya, keberhasilan program pelatihan tidak hanya diukur dari proses belajar, tetapi juga dari keberhasilan peserta memanfaatkan keterampilan yang diperoleh setelah pelatihan selesai.
"Yang paling penting adalah setelah pelatihannya. Apakah mereka melanjutkan, menggunakan ilmunya, dan bisa bekerja. Di situ letak keberhasilannya," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kediri Ibnu Imad mengatakan pelatihan kerja tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menekan angka pengangguran di Kabupaten Kediri.
Ia menjelaskan seluruh pelatihan telah mengacu pada standar kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Pada angkatan pertama ini, terdapat 160 peserta yang terbagi dalam delapan kelas dengan masing-masing berisi 20 peserta berusia 18 hingga 30 tahun.
Setelah menyelesaikan pelatihan, para peserta juga akan mengikuti program magang di sejumlah perusahaan mitra agar memiliki pengalaman kerja sekaligus peluang lebih besar untuk direkrut.
"Harapannya setelah magang mereka dapat menunjukkan kompetensinya dan diterima bekerja di perusahaan mitra," pungkas Ibnu.(red/lis)

0 Komentar