Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan percepatan transformasi digital membuat sektor pendidikan perlu melakukan penyesuaian. Pola pembelajaran yang hanya mengandalkan pencapaian akademik dinilai perlu dilengkapi dengan pengembangan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan masa depan.
Kebutuhan tersebut semakin terasa seiring teknologi mulai digunakan secara luas dalam berbagai bidang pekerjaan. World Economic Forum memperkirakan sekitar 86 persen perusahaan akan mengalami dampak dari perkembangan AI. Di satu sisi, teknologi berpotensi melahirkan berbagai jenis pekerjaan baru, namun di sisi lain juga dapat mengubah atau mengurangi kebutuhan terhadap sejumlah pekerjaan yang selama ini ada.
Situasi itu membuat generasi muda perlu membekali diri dengan kemampuan yang sulit sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Kemampuan seperti berpikir kritis, menghasilkan gagasan kreatif, berkomunikasi, bekerja sama, serta beradaptasi dengan perubahan menjadi semakin penting.
Tantangan pengembangan kemampuan tersebut juga masih dihadapi Indonesia. Berdasarkan hasil PISA 2022, proporsi siswa Indonesia yang mencapai kemampuan berpikir kreatif pada level tinggi masih sekitar 5 persen. Angka tersebut menunjukkan perlunya penguatan pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk lebih aktif berpikir dan menghasilkan solusi.
Salah satu pendekatan yang mulai mendapat perhatian adalah pendidikan berbasis keterampilan. Dalam model ini, siswa tidak hanya diarahkan untuk memahami teori dan materi pelajaran, tetapi juga dilatih menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata.
Kurikulum di sejumlah lembaga pendidikan pun mulai diarahkan untuk memperkuat future skills. Pengembangan literasi digital, kemampuan berkolaborasi, kreativitas, komunikasi, hingga keterampilan memecahkan masalah menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan kondisi dunia yang terus berubah akibat perkembangan teknologi. Meski demikian, keberhasilan transformasi pendidikan tidak terlepas dari peran guru.
Guru dituntut untuk terus meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi sekaligus membimbing siswa agar dapat menggunakannya secara bertanggung jawab. Peserta didik diharapkan tidak berhenti sebagai pengguna teknologi, tetapi juga memahami cara kerja, manfaat, risiko, serta penggunaan teknologi secara tepat.
Penguatan pendidikan berbasis keterampilan pada akhirnya diharapkan dapat membantu menciptakan sumber daya manusia yang lebih siap menghadapi perubahan. Pendidikan di era AI bukan hanya tentang menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan, tetapi juga individu yang mampu beradaptasi, berpikir kreatif, memecahkan persoalan, dan memiliki daya saing. (red/hep)

0 Komentar